Hubungi Kami

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Operasi Plastik: Apa Saja yang Dibutuhkan?

Sebelum menjalani operasi plastik, ada satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan selain memilih dokter dan menentukan hasil yang diinginkan, yaitu pemeriksaan kesehatan. 

Tahap ini akan membantu dokter menilai kesiapan tubuh, mengenali kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko operasi, serta menentukan persiapan yang sesuai dengan kebutuhan setiap pasien.

Lantas, apa saja pemeriksaan kesehatan yang dibutuhkan sebelum operasi plastik, baik yang bisa dilakukan di Indonesia maupun setelah tiba di Korea? Simak ulasannya berikut!

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Operasi Plastik: Apa Saja yang Dibutuhkan?

Pemeriksaan kesehatan sebelum operasi plastik tidak selalu sama untuk setiap orang. Jenis tindakan, durasi operasi, metode anestesi atau pembiusan, usia, riwayat penyakit, dan hasil pemeriksaan awal jadi pertimbangan dokter dalam menentukan tes yang diperlukan.

Persiapan ini dapat dibagi menjadi dua tahap utama, yaitu pemeriksaan awal saat masih berada di Indonesia dan evaluasi lanjutan setelah tiba di Korea Selatan. Berikut ulasan selengkapnya:

Pemeriksaan Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Indonesia

Sebelum berangkat ke Korea Selatan, kamu dapat melakukan pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi kesehatan dan mendeteksi masalah yang mungkin memengaruhi keamanan operasi plastik. 

Baca juga: Ketahui Kapan Anda Harus Check Up Kesehatan, Ini Dia 5 Tandanya!

Pemeriksaan awal yang umum dilakukan, seperti:

1. Pemeriksaan Tekanan Darah

Pemeriksaan tekanan darah membantu dokter menilai kondisi sistem peredaran darah sebelum operasi. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi selama anestesi dan pemulihan.

Jika memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah sering meningkat, lakukan pengukuran secara berkala beberapa minggu sebelum operasi. Sampaikan hasilnya kepada dokter, termasuk obat yang digunakan untuk mengontrol tekanan darah. 

2. Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count)

Pemeriksaan darah lengkap atau complete blood count (CBC) membantu menilai komponen darah yang berperan dalam pengangkutan oksigen, pertahanan terhadap infeksi, dan pembekuan darah.

Komponen yang diperiksa meliputi:

  • Hemoglobin dan eritrosit: membantu menilai kemampuan darah membawa oksigen serta mendeteksi kemungkinan anemia.
  • Hematokrit: menunjukkan persentase volume darah yang terdiri dari sel darah merah.
  • Leukosit: membantu mendeteksi petunjuk infeksi atau peradangan.
  • Trombosit: berperan dalam pembekuan darah sehingga jumlahnya perlu diperhatikan terkait risiko perdarahan.

Hasil pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah ada kondisi yang perlu dievaluasi atau ditangani sebelum operasi. Namun, hasil normal tidak otomatis menjamin pasien siap menjalani tindakan.

3. Tes Pembekuan Darah

Tes pembekuan darah dilakukan untuk menilai proses pembekuan, terutama pada pasien dengan riwayat perdarahan, gangguan pembekuan, penyakit hati, atau penggunaan obat tertentu.

Pemeriksaan yang dapat diminta meliputi prothrombin time (PT), international normalized ratio (INR), dan activated partial thromboplastin time (aPTT). Hasilnya membantu dokter mengenali kemungkinan gangguan pembekuan yang dapat meningkatkan risiko perdarahan selama atau setelah operasi.

Pemeriksaan ini tidak selalu diperlukan untuk semua pasien. Dokter akan menentukan kebutuhan tes berdasarkan riwayat kesehatan dan hasil evaluasi awal.

4. Pemeriksaan Gula Darah

Pemeriksaan gula darah dapat mengetahui apakah kadar glukosa terkendali atau tidak sebelum operasi. Tes ini terutama penting bagi pasien dengan riwayat penyakit diabetes atau faktor risiko gangguan gula darah.

Dokter dapat mempertimbangkan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Gula darah puasa: mengukur kadar glukosa setelah pasien tidak makan selama jangka waktu tertentu sesuai petunjuk pemeriksaan.
  • Gula darah sewaktu: mengukur kadar glukosa tanpa harus menunggu periode puasa tertentu.
  • HbA1c: menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir dan dapat bantu menilai pengendalian diabetes.

Tidak semua pasien membutuhkan ketiga tes tersebut. Jenis pemeriksaan dipilih berdasarkan riwayat kesehatanmu.

Gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat penyembuhan luka. Jika memiliki diabetes, sampaikan hasil pemantauan gula darah dan obat yang digunakan agar dokter dapat merencanakan penanganan yang sesuai.

Baca juga: Simak! 8 Cara Menurunkan Gula Darah yang Efektif

5. Pemeriksaan Fungsi Ginjal dan Hati

Ginjal dan hati berperan dalam memproses atau mengeluarkan berbagai zat, termasuk obat-obatan yang digunakan selama perawatan. Gangguan pada kedua organ ini dapat memengaruhi pemilihan obat, dosis, dan pemantauan setelah operasi.

Pemeriksaan ini dapat membantu dokter:

  • Menilai apakah fungsi ginjal cukup baik untuk mendukung rencana anestesi dan penggunaan obat.
  • Mengenali gangguan hati yang dapat memengaruhi pemrosesan obat.
  • Menentukan apakah diperlukan penyesuaian dosis atau pemantauan tambahan.
  • Memastikan masalah medis yang sudah diketahui ditangani dengan tepat sebelum operasi.

Tes fungsi ginjal dan hati tidak selalu wajib bagi setiap pasien yang menjalani operasi plastik. Dokter akan menentukan kebutuhan pemeriksaan berdasarkan kondisi individu, riwayat medis, dan besarnya tindakan yang direncanakan.

6. Elektrokardiogram (EKG)

EKG merekam aktivitas listrik jantung untuk membantu menilai irama jantung dan mendeteksi petunjuk kelainan tertentu. Pemeriksaan ini dapat direkomendasikan bagi pasien dengan riwayat penyakit jantung, nyeri dada, jantung berdebar, pingsan, atau faktor risiko kardiovaskular.

Hasil EKG membantu dokter menentukan apakah diperlukan evaluasi jantung lebih lanjut sebelum operasi. Namun, EKG bukan pemeriksaan wajib untuk semua pasien dan hasil normal tidak dapat menyingkirkan seluruh jenis penyakit jantung.

Baca juga: Lakukan Sekarang! 8 Cara Cegah Serangan Jantung di Usia Muda

7. Pemeriksaan Fungsi Paru-paru

Pemeriksaan pernapasan diperlukan jika pasien memiliki riwayat asma, penyakit paru kronis, sleep apnea, kebiasaan merokok, atau keluhan seperti sesak napas dan batuk berkepanjangan.

Jika dibutuhkan, dokter dapat merekomendasikan:

  • Spirometri: mengukur jumlah dan kecepatan udara yang diembuskan untuk menilai fungsi paru-paru.
  • Rontgen dada: memberikan gambaran struktur di rongga dada jika terdapat indikasi medis tertentu.

Tidak semua pasien perlu menjalani kedua pemeriksaan tersebut. Jika memiliki asma atau penyakit pernapasan lainnya, pastikan kondisi terkontrol dan informasikan obat yang digunakan sebelum operasi.

8. Pemeriksaan Urine (Urinalisis)

Urinalisis bantu mendeteksi petunjuk gangguan saluran kemih dan kondisi tertentu melalui sampel urine. Pemeriksaan ini dapat mencakup penilaian warna dan kejernihan urine, tes kimia menggunakan dipstick, serta pemeriksaan mikroskopis untuk melihat sel darah, bakteri, atau kristal.

Hasilnya dapat membantu dokter mengevaluasi kemungkinan infeksi saluran kemih, adanya darah dalam urine, atau masalah lain yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Tes ini terutama dilakukan jika ada gejala atau indikasi medis, bukan sebagai pemeriksaan wajib bagi setiap pasien operasi plastik.

9. Pemeriksaan Tambahan Sesuai Kondisi Pasien

Dokter dapat meminta pemeriksaan tambahan apabila ditemukan faktor risiko atau kebutuhan khusus berdasarkan jenis operasi yang direncanakan.

Beberapa contohnya meliputi:

  • Tes kehamilan: jika terdapat kemungkinan kehamilan dan hasilnya dapat memengaruhi keputusan operasi atau anestesi.
  • Pemeriksaan tiroid: jika pasien memiliki riwayat gangguan tiroid atau dugaan kondisi yang belum terkontrol.
  • Pemeriksaan infeksi tertentu: jika terdapat gejala, riwayat paparan, atau indikasi medis.
  • Pencitraan seperti CT scan atau MRI: jika diperlukan untuk menilai struktur anatomi atau membantu perencanaan operasi tertentu, misalnya pada tulang wajah.

Pemeriksaan tambahan sebaiknya dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter. Tanyakan juga kepada klinik di Korea apakah hasil pemeriksaan dari Indonesia dapat digunakan, berapa lama masa berlakunya, dan apakah dokumen perlu diterjemahkan atau tidak.

Pemeriksaan Setelah Tiba di Korea Selatan Sebelum Operasi

Menyelesaikan pemeriksaan awal di Indonesia bukan berarti seluruh proses evaluasi medis sudah selesai. Setelah tiba di Korea Selatan, dokter bedah dan dokter anestesi tetap perlu memastikan bahwa kondisi terkini pasien sesuai untuk menjalani prosedur yang direncanakan.

Pemeriksaannya biasa meliputi:

1. Konsultasi Ulang dengan Dokter Bedah

Sebelum menjalani operasi, dokter bedah akan meninjau kembali tujuan tindakan, kondisi area yang akan dioperasi, dan kesesuaian prosedur dengan kondisi pasien.

Pada tahap ini, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik langsung untuk menilai struktur wajah atau tubuh yang akan ditangani. 

Misalnya, pada operasi hidung, dokter dapat mengevaluasi bentuk hidung, struktur kulit, kondisi bagian dalam hidung jika relevan, serta faktor anatomi yang memengaruhi rencana operasi.

Dalam konsultasi ini, dokter juga dapat memastikan beberapa hal berikut:

  • Prosedur yang direncanakan sesuai dengan tujuan dan kondisi pasien.
  • Tidak ada perubahan kesehatan yang perlu ditangani terlebih dahulu.
  • Hasil pemeriksaan sebelumnya dapat digunakan atau perlu diperbarui.
  • Pasien memahami tahapan operasi, kemungkinan risiko, batasan hasil, dan proses pemulihan.
  • Terdapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sebelum memberikan persetujuan tindakan.

Jika hasil konsultasi menunjukkan bahwa rencana awal perlu disesuaikan, dokter dapat mendiskusikan alternatif yang lebih sesuai. Keputusan tersebut sebaiknya dibuat berdasarkan pertimbangan medis dan pemahaman pasien terhadap manfaat serta risikonya.

2. Evaluasi Pra-anestesi oleh Dokter Anestesi

Jika operasi menggunakan anestesi umum atau metode pembiusan lainnya yang memerlukan evaluasi khusus, pasien dapat menjalani konsultasi pra-anestesi. 

Dokter anestesi akan meninjau riwayat kesehatan, pengalaman anestesi sebelumnya, alergi, obat-obatan yang digunakan, serta hasil tes yang tersedia. Dokter juga dapat menilai kondisi jantung, pernapasan, jalan napas, dan faktor lain yang relevan dengan metode anestesi.

Beberapa hal yang mungkin dievaluasi meliputi:

  • Pengalaman anestesi sebelumnya: apakah pernah mengalami mual berat, reaksi alergi, kesulitan saat pembiusan, atau komplikasi lain.
  • Kondisi jalan napas: termasuk faktor anatomi yang dapat memengaruhi proses pemberian anestesi dan bantuan pernapasan.
  • Risiko mual dan muntah setelah operasi: untuk menentukan langkah pencegahan yang sesuai.
  • Riwayat gangguan tidur atau pernapasan: seperti sleep apnea, asma, atau kondisi paru-paru lainnya.
  • Kebutuhan pemantauan khusus: berdasarkan kondisi kesehatan dan kompleksitas prosedur.

Dokter anestesi juga akan menjelaskan aturan puasa sebelum tindakan. Lamanya puasa dapat berbeda menurut jenis makanan atau minuman, kondisi pasien, dan protokol klinik. Ikuti instruksi yang diberikan secara tepat, termasuk ketentuan mengenai air putih dan obat rutin.

Jangan mengubah aturan puasa sendiri. Makan atau minum di luar ketentuan dapat membuat tim medis perlu menunda tindakan demi mengurangi risiko saat anestesi.

3. Pemeriksaan Ulang dan Tes yang Belum Lengkap

Setelah meninjau hasil pemeriksaan dari Indonesia, tim medis di Korea dapat menentukan apakah diperlukan tes tambahan atau pengulangan pemeriksaan.

Hal ini dapat terjadi jika hasil sebelumnya sudah tidak memenuhi persyaratan klinik, informasi yang tercantum tidak lengkap, atau terdapat perubahan kondisi pasien. Pemeriksaan ulang juga mungkin diperlukan jika hasil awal menunjukkan kelainan yang belum dievaluasi secara menyeluruh.

Agar prosesnya lebih lancar, siapkan dokumen berikut jika tersedia:

  • Hasil laboratorium beserta tanggal pemeriksaan.
  • Rekam medis atau ringkasan diagnosis dari dokter yang merawat.
  • Daftar obat resep, obat bebas, dan suplemen yang dikonsumsi.
  • Hasil EKG, pencitraan, atau pemeriksaan khusus yang relevan.
  • Informasi mengenai alergi dan reaksi terhadap obat atau anestesi sebelumnya.

Jika dokumen menggunakan bahasa Indonesia, tanyakan apakah klinik membutuhkan terjemahan ke bahasa Inggris atau Korea. 

4. Pemeriksaan Kondisi Fisik dan Tanda Vital Terakhir

Menjelang operasi, tim medis biasanya kembali memeriksa tanda vital dan kondisi fisik pasien. Pemeriksaan ini dapat memastikan tidak ada perubahan kesehatan yang membuat prosedur perlu ditunda.

Selain itu, dokter dapat memeriksa area yang akan dioperasi untuk memastikan tidak ada luka, ruam, atau infeksi kulit yang perlu diperhatikan. Pada prosedur tertentu, kondisi kulit dan jaringan di sekitar area operasi dapat memengaruhi rencana tindakan.

Jika ditemukan masalah kesehatan yang berpotensi meningkatkan risiko, dokter dapat merekomendasikan penanganan terlebih dahulu atau menjadwalkan ulang operasi. 

5. Konfirmasi Persiapan Terakhir Sebelum Masuk Ruang Operasi

Setelah evaluasi medis selesai, tim klinik akan memastikan bahwa persiapan pasien sudah sesuai dengan rencana tindakan. Proses ini dapat mencakup verifikasi identitas, jenis operasi, area tindakan, persetujuan medis, serta kepatuhan terhadap instruksi sebelum anestesi.

Sebelum hari operasi, pastikan kamu sudah memahami beberapa hal berikut:

  • Waktu terakhir diperbolehkan makan dan minum.
  • Obat mana yang harus diminum, disesuaikan, atau tidak dikonsumsi pada hari tindakan berdasarkan instruksi dokter.
  • Barang atau dokumen yang harus dibawa ke klinik.
  • Pengaturan transportasi dan pendamping setelah operasi, terutama jika menggunakan anestesi umum atau sedasi.
  • Rencana pemantauan, kontrol lanjutan, dan perawatan setelah pulang.

Baca juga: Klinik Bedah Plastik di Korea Tidak Memberikan Obat Langsung ke Pasien, Kenapa?

Pastikan pula kamu mengetahui siapa yang dapat dihubungi jika mengalami keluhan setelah meninggalkan klinik. Hal ini sangat penting bagi pasien dari Indonesia yang menjalani operasi di luar negeri, mengingat mereka perlu memahami cara mendapatkan bantuan medis selama masa pemulihan.

Ketika kamu bekerja sama dengan medical concierge seperti Beutrip, kamu tidak perlu khawatir bahkan setelah kamu meninggalkan klinik. Sebab, Beutrip akan terus mendampingimu melewati masa recovery sampai kamu kembali ke Indonesia. 

Persiapan Pemeriksaan Sebelum Berangkat ke Korea agar Lebih Lancar

Agar proses konsultasi dan evaluasi medis tidak terkendala, kamu bisa membuat daftar persiapan sejak masih di Indonesia. Langkah ini dapat memastikan informasi kesehatan yang dibutuhkan tersedia dan kamu tidak perlu mengulanginya saat tiba di Korea.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Minta daftar pemeriksaan dari klinik tujuan. 

Tanyakan tes apa yang dibutuhkan, kapan harus dilakukan, berapa lama hasilnya berlaku, dan apakah ada persyaratan khusus dari dokter anestesi.

2. Simpan hasil pemeriksaan dalam bentuk digital dan cetak. 

Dokumen digital memudahkan pengiriman kepada tim medis, sedangkan salinan cetak dapat digunakan jika dibutuhkan saat konsultasi langsung.

3. Bawa ringkasan riwayat kesehatan. 

Catat diagnosis yang pernah diterima, operasi sebelumnya, alergi, serta obat yang rutin digunakan.

4. Sampaikan perubahan kondisi kesehatan sebelum berangkat. 

Jika mengalami demam, infeksi, atau gejala baru, beri tahu klinik untuk mendapatkan arahan sebelum melakukan perjalanan.

5. Pastikan ada waktu untuk evaluasi lanjutan. 

Jangan menjadwalkan perjalanan terlalu mepet dengan hari operasi tanpa mempertimbangkan waktu konsultasi, tes tambahan, dan kemungkinan perubahan rencana.

6. Jangan melakukan tes yang tidak diminta tanpa konsultasi. 

Pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan medis agar hasilnya relevan dan biaya dapat direncanakan dengan baik.

Bagi pasien yang akan menjalani operasi plastik di Korea, koordinasi antara pasien, dokter bedah, dan dokter anestesi menjadi bagian penting dalam tahap persiapan. 

Jika kamu menggunakan layanan medical concierge seperti Beutrip, kamu juga akan mendapat bantuan untuk memahami alur konsultasi, persiapan dokumen, dan berkomunikasi dengan klinik terkait kebutuhan pemeriksaan sebelum tindakan.

Apa Saja yang Harus Disampaikan kepada Dokter Sebelum Operasi Plastik?

Sebelum menjalani operasi plastik, kamu perlu menyampaikan informasi kesehatan secara jujur dan lengkap kepada dokter. Informasi ini akan membantu tim medis menilai risiko, memilih metode anestesi yang sesuai, serta menentukan penyesuaian obat atau persiapan lain yang diperlukan.

Berikut hal-hal penting yang perlu disampaikan saat konsultasi:

1. Riwayat Penyakit yang Pernah atau Sedang Dialami

Informasikan seluruh penyakit yang pernah didiagnosis, termasuk kondisi yang sudah terkendali atau tidak lagi menimbulkan gejala. Beberapa kondisi yang perlu disampaikan meliputi:

  • Penyakit jantung, hipertensi, dan riwayat stroke.
  • Diabetes dan gangguan gula darah.
  • Gangguan pembekuan darah atau riwayat perdarahan.
  • Asma, penyakit paru kronis, dan sleep apnea.
  • Penyakit ginjal, hati, tiroid, atau autoimun.
  • Riwayat kanker dan pengobatan yang pernah dijalani.

Jelaskan kapan penyakit didiagnosis, bagaimana kondisi terkini, dan pengobatan yang digunakan. Jika tersedia, bawa ringkasan medis atau catatan kontrol terbaru agar dokter dapat menilai apakah kondisi tersebut butuh penanganan tambahan sebelum operasi atau tidak.

2. Riwayat Operasi dan Anestesi Sebelumnya

Sampaikan jenis operasi yang pernah dijalani, termasuk operasi plastik, serta komplikasi yang mungkin terjadi selama atau setelah tindakan.

Dokter juga perlu mengetahui jika kamu pernah mengalami reaksi terhadap anestesi, mual dan muntah berat, kesulitan bernapas saat pembiusan, perdarahan berlebihan, atau penyembuhan luka yang lambat. Informasikan pula jika pernah menggunakan implan atau bahan medis lain yang masih berada di dalam tubuh.

Jika memiliki catatan operasi atau laporan anestesi sebelumnya, bawalah saat konsultasi. Informasi tersebut membantu dokter merencanakan tindakan dengan mempertimbangkan pengalaman medis sebelumnya.

3. Alergi terhadap Obat atau Bahan Medis

Beri tahu dokter jika memiliki alergi terhadap obat, lateks, plester medis, antiseptik, atau bahan lain yang digunakan dalam perawatan.

Jelaskan bahan pemicu, gejala yang muncul, dan tingkat keparahan reaksinya. Misalnya, apakah hanya berupa ruam dan gatal atau pernah menyebabkan pembengkakan dan kesulitan bernapas.

Jika penyebab reaksi belum diketahui, sampaikan hal tersebut apa adanya. Informasi yang lengkap membantu dokter menentukan pilihan obat dan langkah pencegahan yang sesuai.

4. Kebiasaan Merokok, Menggunakan Vape, dan Konsumsi Alkohol

Kebiasaan sehari-hari dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi dan proses pemulihan.

Merokok dan penggunaan vape perlu disampaikan sebab nikotin dapat mempersempit pembuluh darah, sedangkan zat dalam asap rokok dapat mengganggu pasokan oksigen ke jaringan. 

Kondisi ini berpotensi memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan risiko komplikasi pada operasi tertentu.

Konsumsi alkohol, terutama dalam jumlah besar atau secara rutin, juga perlu diinformasikan karena dapat memengaruhi fungsi hati dan interaksi obat. Sampaikan frekuensi penggunaan serta kapan terakhir kali mengonsumsinya agar dokter dapat memberikan arahan yang tepat.

5. Obat Resep yang Sedang Dikonsumsi

Beri tahu dokter semua obat resep yang digunakan, termasuk nama, dosis, frekuensi, dan alasan penggunaannya. Beberapa jenis obat yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Obat pengencer darah dan antiplatelet: seperti warfarin, apixaban, aspirin, atau clopidogrel, yang dapat memengaruhi risiko perdarahan atau pembekuan darah.
  • Obat hipertensi: perlu dievaluasi untuk menentukan penggunaannya menjelang dan pada hari operasi.
  • Obat diabetes: termasuk insulin dan obat penurun gula darah yang mungkin perlu disesuaikan dengan jadwal puasa.
  • Kortikosteroid: terutama jika digunakan dalam jangka panjang karena dapat memengaruhi respons tubuh terhadap operasi.
  • Obat hormonal: termasuk terapi sulih hormon dan kontrasepsi hormonal yang perlu dievaluasi berdasarkan risiko individu.
  • Obat psikiatri dan obat tidur: dapat berinteraksi dengan obat anestesi atau memengaruhi pemantauan pasien.

6. Obat Bebas, Vitamin, dan Suplemen Herbal

Obat tanpa resep dan suplemen juga perlu dicantumkan dalam daftar penggunaan obat. Produk tertentu dapat memengaruhi pembekuan darah, tekanan darah, kadar gula, atau efek anestesi.

Contohnya meliputi:

  • Ibuprofen dan naproxen: dapat memengaruhi fungsi trombosit dan meningkatkan risiko perdarahan dalam kondisi tertentu.
  • Aspirin: menghambat fungsi trombosit dan perlu dievaluasi sebelum operasi.
  • Vitamin E dan minyak ikan: penggunaannya perlu ditinjau berdasarkan dosis, kondisi pasien, dan prosedur.
  • Ginkgo biloba dan herbal tertentu: dapat berinteraksi dengan obat atau memengaruhi pembekuan darah.
  • Suplemen kebugaran atau pelangsing: perlu diperiksa kandungan dan kemungkinan interaksinya.

Waktu penghentian, jika memang diperlukan, bergantung pada jenis produk dan instruksi dokter. Bawalah kemasan atau foto label suplemen jika kamu tidak yakin dengan kandungannya.

Baca juga: Must to Visit: 5 Apotek di Korea yang Terlengkap dan Terjangkau

7. Riwayat Perdarahan atau Penggumpalan Darah

Sampaikan jika kamu mudah mengalami memar, mengalami perdarahan berkepanjangan, atau pernah didiagnosis mengalami gangguan pembekuan darah.

Informasikan juga jika pernah mengalami trombosis vena dalam (DVT) atau emboli paru, maupun memiliki riwayat keluarga dengan gangguan pembekuan tertentu.

Dokter akan menggunakan informasi ini untuk mempertimbangkan jenis operasi, durasi tindakan, penggunaan hormon, dan kemampuan bergerak selama pemulihan. Jika diperlukan, tim medis dapat merencanakan langkah pencegahan penggumpalan darah dengan tetap memperhatikan risiko perdarahan.

8. Perubahan Kondisi Kesehatan Menjelang Operasi

Sampaikan jika kamu mengalami demam, batuk berat, sesak napas, muntah, diare, infeksi kulit, atau keluhan baru setelah konsultasi awal. Informasikan juga jika penyakit kronis yang sebelumnya stabil tiba-tiba memburuk.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesiapan menjalani anestesi dan operasi. Dokter akan menentukan apakah tindakan operasi dapat dilanjutkan, perlu pemeriksaan tambahan, atau sebaiknya ditunda hingga kondisi membaik.

9. Kemungkinan Kehamilan dan Terapi Hormon

Jika ada kemungkinan hamil, sampaikan kepada dokter sebelum operasi. Dokter dapat merekomendasikan tes kehamilan jika hasilnya memengaruhi keputusan mengenai anestesi atau tindakan elektif.

Informasikan pula penggunaan kontrasepsi hormonal atau terapi sulih hormon. Jenis terapi tertentu dapat memengaruhi risiko penggumpalan darah, bergantung pada kandungan, cara penggunaan, dan faktor kesehatan lainnya.

Keterbukaan saat konsultasi akan bantu tim medis menyusun rencana yang sesuai dengan kondisi pasien. 

Jika ada hal yang belum dipahami, mintalah penjelasan sebelum memberikan persetujuan agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan pemahaman mengenai manfaat dan risiko tindakan operasi plastik.

Jika kamu merasa lebih tenang bila didampingi oleh Beutrip yang berpengalaman, yuk konsultasi dengan Beauty Expert kami sekarang juga!

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Operasi Plastik: Apa Saja yang Dibutuhkan?

Price Enquiry

Get ready for your transformation