Hubungi Kami

Punya Riwayat Penyakit, Apakah Aman Menjalani Operasi Plastik? Ini Penjelasannya!

Punya riwayat penyakit bukan berarti kamu tidak bisa menjalani operasi plastik. Namun, kondisi kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi. Sebelum memutuskan untuk mengubah penampilan, penting untuk memahami kondisi tubuh, berkonsultasi dengan dokter, dan mempertimbangkan pilihan perawatan yang paling aman. 

Lantas, pertanyaan apakah aman menjalani operasi plastik bila memiliki riwayat penyakit tertentu? Berikut penjelasan yang perlu kamu simak!

Riwayat Penyakit yang Bisa Meningkatkan Risiko Operasi Plastik

Beberapa penyakit memang dapat meningkatkan risiko komplikasi saat menjalani operasi plastik. Penyakit apa saja?

A. Diabetes Melitus yang Tidak Terkontrol

Diabetes dengan kadar gula darah tinggi dapat menghambat penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi setelah operasi.

Risiko yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Luka sulit sembuh akibat gangguan aliran darah dan perbaikan jaringan.
  • Infeksi luka operasi karena fungsi kekebalan tubuh dapat terganggu.
  • Nekrosis atau kematian jaringan jika jaringan tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup.

Pasien dengan diabetes yang terkendali mungkin masih dapat menjalani operasi setelah evaluasi medis.

B. Penyakit Autoimun, seperti Lupus dan Rheumatoid Arthritis

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendiri. Kondisi ini dapat memengaruhi proses pemulihan, terutama jika penyakit sedang aktif atau melibatkan organ penting.

Risiko yang mungkin muncul:

  • Peradangan yang memperumit proses pemulihan.
  • Infeksi akibat penggunaan obat penekan sistem kekebalan tubuh.
  • Gangguan penyembuhan luka jika terdapat komplikasi pada organ atau jaringan tertentu.

Pasien dengan penyakit autoimun yang stabil perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis yang merawat sebelum menjalani operasi.

C. Penyakit Jantung, Hipertensi Berat, dan Riwayat Stroke

Gangguan kardiovaskular dapat meningkatkan risiko komplikasi selama anestesi dan operasi, terutama jika kondisi belum terkendali.

Risiko utamanya meliputi:

  • Gangguan tekanan darah dan irama jantung selama tindakan.
  • Komplikasi jantung dan pembuluh darah akibat meningkatnya beban kerja tubuh.
  • Risiko stroke berulang, terutama pada pasien dengan riwayat stroke yang belum dievaluasi secara menyeluruh.

Operasi sebaiknya ditunda jika kondisi jantung atau tekanan darah belum stabil.

D. Gangguan Pembekuan Darah dan Penggunaan Obat Pengencer Darah

Gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, maupun penggunaan obat pengencer darah dapat memengaruhi keamanan operasi.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan adalah:

  • Perdarahan berlebihan akibat proses pembekuan darah yang terganggu.
  • Hematoma, yaitu penumpukan darah di luar pembuluh darah.
  • Trombosis vena dalam (DVT) atau pembentukan bekuan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah.

Pasien perlu berkonsultasi dengan dokter untuk menyusun rencana penanganan yang sesuai. Jangan menghentikan obat pengencer darah tanpa arahan medis.

E. Kelainan Kulit atau Riwayat Keloid Berat

Keloid merupakan pertumbuhan jaringan parut berlebihan yang dapat menonjol melewati batas luka awal. Kondisi ini dapat memengaruhi hasil estetika setelah operasi plastik.

Risiko yang perlu diperhatikan:

  • Bekas luka menebal dan menonjol.
  • Keloid baru muncul di area sayatan operasi.
  • Hasil akhir operasi kurang sesuai dengan harapan akibat perubahan jaringan parut.

Riwayat keloid tidak selalu melarang operasi, tapi perlu dipertimbangkan saat memilih prosedur dan lokasi sayatan.

Baca juga: Hilangkan Bekas Luka Keloid dengan Operasi Plastik, Bisa kok!

F. Penyakit Ginjal Kronis atau Penurunan Fungsi Ginjal

Gangguan fungsi ginjal dapat memengaruhi keseimbangan cairan, elektrolit, dan pengelolaan obat selama operasi.

Risiko yang mungkin terjadi meliputi:

  • Cedera ginjal akut akibat gangguan sirkulasi atau faktor lain selama operasi.
  • Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang dapat memengaruhi fungsi organ.
  • Efek obat yang lebih sulit diprediksi akibat penurunan kemampuan ginjal membuang zat tertentu.

Pasien perlu menjalani evaluasi fungsi ginjal, termasuk pemeriksaan kreatinin dan eGFR sesuai indikasi, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis ginjal sebelum mempertimbangkan operasi plastik.

Punya Riwayat Penyakit, Apakah Aman Menjalani Operasi Plastik?

Bagi orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu, respons tubuh terhadap kondisi tersebut bisa berbeda. Ada penyakit yang relatif mudah dikendalikan sehingga operasi masih dapat dipertimbangkan. Sebaliknya, ada pula kondisi yang membuat risiko operasi lebih tinggi dan mengharuskan tindakan ditunda sampai kesehatan lebih stabil.

Berikut penjelasannya lebih lanjut!

Riwayat Penyakit Apa yang Relatif Aman untuk Operasi Plastik?

Berikut beberapa contoh kondisi yang mungkin masih memungkinkan operasi plastik setelah evaluasi medis:

A. Diabetes yang terkendali

Pasien diabetes dengan kadar gula darah yang terkelola baik, tanpa komplikasi berat, dapat dipertimbangkan untuk menjalani operasi plastik.

Pengendalian gula darah dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh dan proses penyembuhan luka. Meski begitu, dokter tetap perlu memperhatikan riwayat luka yang sulit sembuh, gangguan saraf, penyakit pembuluh darah, serta kondisi ginjal.

Beberapa pertimbangan sebelum operasi meliputi:

  • Hasil pemeriksaan gula darah dan HbA1c yang sesuai dengan target individual.
  • Tidak terdapat infeksi aktif atau luka yang belum sembuh.
  • Tidak ada komplikasi diabetes berat yang belum tertangani.
  • Tersedia rencana pengaturan obat diabetes, pola makan, dan pemantauan gula darah selama masa perioperatif, yaitu sebelum, selama, dan setelah operasi.

Mengapa relatif aman?

Diabetes yang terkendali memungkinkan tubuh menjalankan proses penyembuhan luka dengan lebih baik dibandingkan diabetes yang kadar gula darahnya terus tinggi. Pengendalian gula darah membantu mendukung fungsi sel kekebalan tubuh dan mengurangi risiko infeksi setelah operasi.

Pasien juga mungkin memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah jika tidak mengalami kerusakan pembuluh darah, gangguan saraf, atau penyakit ginjal akibat diabetes. Meski begitu, kondisi tersebut tetap perlu dinilai secara individual sebelum operasi dilakukan.

B. Hipertensi yang terkontrol

Orang yang memiliki hipertensi tetapi tekanan darahnya stabil dengan pengobatan mungkin masih dapat menjalani prosedur bedah elektif.

Hal yang perlu diperhatikan adalah hasil pengukuran tekanan darah terbaru, kepatuhan terhadap obat, dan ada tidaknya kerusakan organ akibat hipertensi.

Dokter juga akan menilai apakah pasien mengalami keluhan yang mengarah pada masalah jantung atau pembuluh darah. Jika tekanan darah sangat tinggi atau disertai gejala yang mencurigakan, tindakan perlu ditunda sampai evaluasi selesai.

Mengapa relatif aman?

Tekanan darah yang terkontrol bantu mengurangi risiko komplikasi yang berkaitan dengan tekanan berlebihan pada pembuluh darah selama operasi. Kondisi yang stabil juga memudahkan dokter anestesi mengatur tekanan darah dan sirkulasi selama tindakan.

Pasien yang rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran dan tidak memiliki komplikasi jantung atau pembuluh darah berat mungkin dapat menjalani operasi setelah dinilai layak oleh dokter.

C. Penyakit autoimun dalam kondisi remisi atau stabil

Dokter akan mempertimbangkan apakah fungsi organ stabil, apakah pasien menggunakan obat yang memengaruhi kekebalan tubuh, dan apakah terdapat riwayat kekambuhan yang berat.

Dalam kondisi tertentu, operasi dapat dilakukan dengan pengawasan dan pengaturan obat yang tepat. Namun, penyakit yang tampak tidak bergejala belum tentu sepenuhnya aman jika masih terdapat gangguan organ atau efek samping pengobatan.

Mengapa relatif aman?

Penyakit autoimun yang aktivitasnya rendah cenderung lebih mudah dikelola dibandingkan penyakit yang sedang mengalami kekambuhan berat. Kondisi yang stabil dapat membantu dokter merencanakan tindakan, mengatur pengobatan, dan memperkirakan kebutuhan pemantauan selama pemulihan.

Jika tidak ada gangguan organ penting yang aktif, operasi mungkin masih bisa dipertimbangkan berdasarkan hasil evaluasi bersama dokter spesialis terkait.

D. Riwayat penyakit yang sudah pulih tanpa komplikasi aktif

Seseorang yang pernah mengalami penyakit tertentu tapi sudah pulih dapat memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan orang dengan penyakit yang masih aktif. Contohnya, pasien yang pernah mengalami infeksi dan kini telah pulih sepenuhnya.

Meski begitu, dokter tetap perlu mengetahui penyakit apa yang pernah dialami, kapan terjadi, apakah ada dampak jangka panjang, dan apakah pasien masih mengonsumsi obat tertentu.

Mengapa relatif aman?

Penyakit yang telah sembuh sepenuhnya dan tidak meninggalkan gangguan fungsi organ biasanya tidak menimbulkan risiko yang sama dengan penyakit yang masih aktif. Tubuh juga mungkin sudah kembali menjalankan fungsi normal sehingga lebih mampu menghadapi proses operasi dan pemulihan.

Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami infeksi ringan dan telah pulih tanpa komplikasi dapat memiliki pertimbangan berbeda dari pasien yang masih mengalami infeksi aktif.

E. Kondisi kronis ringan yang stabil

Beberapa kondisi kronis yang ringan dan terkendali mungkin tidak meningkatkan risiko operasi secara berarti. Namun, hal tersebut tetap bergantung pada penyakit yang dimaksud dan prosedur yang akan dilakukan.

Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan label penyakit. Dokter perlu melihat kondisi tubuh secara keseluruhan, termasuk kemampuan melakukan aktivitas harian, obat yang digunakan, dan kemungkinan masalah kesehatan lain yang belum terdeteksi.

Mengapa relatif aman?

Kondisi kronis yang ringan dan terkendali mungkin tidak memberikan beban tambahan yang besar terhadap tubuh selama operasi. Jika fungsi organ tetap baik dan tidak terdapat komplikasi lain, pasien dapat memiliki peluang lebih besar untuk menjalani tindakan dengan aman.

Siapa yang Berhak Menentukan Apakah Pasien Aman Menjalani Operasi Plastik?

Keputusan mengenai kelayakan operasi plastik sebaiknya dibuat melalui kerja sama antara pasien, dokter bedah plastik, dokter anestesi, dan dokter spesialis lain jika dibutuhkan.

Setiap tenaga medis memiliki peran yang berbeda, seperti:

  • Dokter bedah plastik: menilai tujuan operasi, teknik yang akan digunakan, besarnya tindakan, serta kemungkinan komplikasi pada jaringan dan hasil estetika.
  • Dokter anestesi: menilai risiko yang berkaitan dengan pembiusan, fungsi organ penting, pengelolaan obat, dan kebutuhan pemantauan selama tindakan.
  • Dokter spesialis penyakit: menilai apakah penyakit yang sudah ada berada dalam kondisi stabil dan apakah diperlukan penyesuaian pengobatan sebelum operasi.

Pada pasien dengan penyakit ginjal, misalnya, dokter spesialis ginjal dapat membantu menentukan apakah fungsi ginjal cukup stabil dan apakah terdapat masalah yang perlu ditangani lebih dahulu. 

Sementara itu, pasien dengan penyakit jantung mungkin memerlukan penilaian dokter jantung sebelum menjalani prosedur tertentu.

Jika operasi direncanakan di luar negeri, termasuk Korea Selatan, pasien sebaiknya menyampaikan riwayat kesehatan secara lengkap kepada tim medis di klinik atau rumah sakit tujuan. 

Informasi mengenai diagnosis, hasil pemeriksaan terbaru, alergi, dan obat yang dikonsumsi akan membantu dokter melakukan penilaian yang lebih akurat.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Tetap Ingin Menjalani Operasi Plastik?

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan agar keputusan menjalani operasi plastik lebih terencana:

1. Konsultasikan Kondisi Kesehatan dengan Dokter yang Merawat

Langkah pertama adalah berkonsultasi dengan dokter yang menangani penyakitmu sebelum membuat janji operasi plastik. Dokter tersebut memahami perkembangan penyakit, pengobatan yang sedang dijalani, serta komplikasi yang mungkin perlu diantisipasi.

Jangan hanya menyampaikan bahwa kamu pernah memiliki penyakit tertentu. Jelaskan juga kondisi kesehatan saat ini, termasuk jika kamu sudah lama tidak mengalami gejala atau merasa tubuh kembali sehat.

Beberapa hal yang perlu didiskusikan saat konsultasi meliputi:

  • Apakah penyakit yang kamu miliki sudah terkendali dan memungkinkan untuk menjalani operasi elektif?
  • Apakah terdapat komplikasi yang dapat memengaruhi proses anestesi atau penyembuhan?
  • Apakah kamu membutuhkan pemeriksaan tambahan sebelum mendapatkan persetujuan operasi?
  • Apakah ada obat yang perlu disesuaikan menjelang tindakan?
  • Apakah prosedur yang diinginkan memiliki risiko yang terlalu tinggi untuk kondisi kesehatanmu?

Jangan menjadikan persetujuan dokter bedah plastik sebagai satu-satunya pertimbangan. Untuk pasien dengan penyakit penyerta, penilaian dari dokter yang memahami kondisi tersebut dapat menentukan langkah yang lebih aman.

2. Pilih Dokter Bedah Plastik dan Fasilitas Medis yang Tepat

Pemilihan dokter dan fasilitas medis merupakan bagian penting dari persiapan operasi plastik. Selain mempertimbangkan hasil estetika, pastikan dokter memiliki kompetensi yang sesuai dan fasilitas tempat operasi dapat menangani komplikasi jika terjadi.

Hal ini penting bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta, sebab kebutuhan pemantauan selama operasi bisa berbeda dari pasien yang tidak memiliki masalah kesehatan.

Berikut beberapa hal yang sebaiknya diperiksa:

  • Pastikan dokter memiliki kualifikasi yang sesuai. Periksa kredensial dokter bedah plastik dan pastikan prosedur dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kewenangan serta kompetensi untuk tindakan tersebut.
  • Pilih fasilitas dengan standar keselamatan yang memadai. Pastikan tersedia ruang operasi yang sesuai, peralatan pemantauan, tenaga anestesi yang kompeten, dan layanan penanganan gawat darurat.
  • Periksa kemampuan fasilitas menangani penyakit penyerta. Jika kamu memiliki penyakit ginjal, jantung, atau gangguan kesehatan lain yang cukup serius, pertimbangkan rumah sakit yang dapat menyediakan konsultasi lintas spesialis dan perawatan intensif bila diperlukan.
  • Tanyakan sistem pemantauan setelah operasi. Cari tahu siapa yang akan memeriksa kondisimu, bagaimana komplikasi ditangani, dan ke mana kamu harus mencari pertolongan jika mengalami masalah setelah pulang.

Baca juga: 6 Cara Memilih Dokter Bedah Plastik di Korea

Jika berencana menjalani operasi plastik di Korea Selatan, kamu juga perlu memeriksa kredensial dokter dan fasilitas yang akan digunakan. Jangan hanya mengandalkan foto sebelum-sesudah, ulasan media sosial, atau popularitas klinik.

3. Lakukan Pemeriksaan Praoperasi Sesuai Kondisi Tubuh

Sebelum operasi, dokter biasanya melakukan evaluasi praoperasi untuk mengetahui apakah kondisi tubuh cukup stabil untuk menjalani tindakan. Pemeriksaan ini juga membantu menentukan jenis anestesi, kebutuhan pemantauan, dan langkah pencegahan komplikasi.

Jenis pemeriksaan tidak harus sama pada setiap pasien. Dokter akan menyesuaikannya dengan riwayat penyakit, usia, obat yang dikonsumsi, dan tingkat risiko operasi.

Beberapa pemeriksaan yang mungkin diperlukan antara lain:

  • Pemeriksaan darah lengkap, untuk menilai kadar hemoglobin dan komponen darah lainnya.
  • Pemeriksaan gula darah atau HbA1c, jika memiliki diabetes atau terdapat indikasi lain.
  • Pemeriksaan fungsi ginjal, seperti kreatinin dan eGFR, terutama jika memiliki penyakit ginjal atau faktor risiko terkait.
  • Pemeriksaan elektrolit, jika diperlukan untuk menilai keseimbangan mineral dalam darah.
  • Pemeriksaan jantung, seperti elektrokardiogram (EKG) atau tes lain berdasarkan gejala dan tingkat risiko.
  • Pemeriksaan pembekuan darah, jika terdapat riwayat perdarahan atau penggunaan obat tertentu.

Untuk pasien dengan penyakit ginjal, pemeriksaan kreatinin dan eGFR dapat membantu dokter memahami kemampuan ginjal menyaring zat sisa dari darah. Hasilnya kemudian dinilai bersama kondisi cairan tubuh, elektrolit, obat yang digunakan, serta kemungkinan komplikasi lainnya.

4. Sampaikan Riwayat Penyakit dan Obat yang Dikonsumsi Secara Jujur

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menyembunyikan riwayat penyakit karena takut dokter akan menolak permintaan operasi plastik.

Padahal, informasi kesehatan yang lengkap membantu tim medis memperkirakan risiko dan menentukan penanganan yang sesuai. 

Informasi yang sebaiknya kamu sampaikan meliputi:

  • Diagnosis penyakit yang pernah atau sedang dialami.
  • Riwayat operasi, rawat inap, atau komplikasi akibat penyakit.
  • Obat resep, obat bebas, vitamin, dan suplemen yang rutin dikonsumsi.
  • Riwayat alergi terhadap obat, makanan, lateks, atau bahan medis tertentu.
  • Riwayat perdarahan berlebihan, pembentukan keloid, atau masalah penyembuhan luka.
  • Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, jika ada.

Informasi ini penting untuk menentukan pilihan anestesi, mengatur obat, dan menyusun rencana pemulihan.

Jika kamu menjalani konsultasi di Korea Selatan, siapkan ringkasan riwayat medis dan hasil pemeriksaan terbaru. Dokumen yang jelas akan membantu dokter di negara tujuan memahami kondisi kesehatanmu dengan lebih akurat.

5. Pertimbangkan Prosedur yang Lebih Terbatas Jika Memungkinkan

Jika dokter menyatakan operasi masih dapat dipertimbangkan, diskusikan apakah prosedur yang lebih terbatas sesuai dengan tujuan estetika dan kondisi kesehatanmu.

Operasi yang melibatkan area lebih kecil atau memiliki durasi lebih singkat mungkin mengurangi sebagian beban tindakan.

Beberapa hal yang dapat kamu diskusikan dengan dokter adalah:

  • Apakah tujuan estetika bisa dicapai melalui satu prosedur yang lebih terbatas?
  • Apakah operasi besar dapat diganti dengan alternatif yang lebih sederhana?
  • Apakah beberapa prosedur sebaiknya tidak dilakukan sekaligus?
  • Apakah diperlukan pemantauan lebih lama setelah operasi?
  • Apakah hasil yang diharapkan sebanding dengan risiko yang harus dihadapi?

Misalnya, jika kamu ingin memperbaiki beberapa bagian wajah sekaligus, dokter dapat membantu menentukan apakah tindakan tersebut perlu dibagi menjadi beberapa tahap atau apakah ada pilihan lain yang lebih sesuai.

6. Persiapkan Tubuh Sebelum Operasi

Persiapan fisik dapat membantu mendukung proses pemulihan setelah operasi plastik. Meski tidak dapat menghilangkan semua risiko, kebiasaan yang lebih sehat dapat memperbaiki kondisi tubuh sebelum menjalani tindakan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti berhenti merokok, memenuhi kebutuhan nutrisi, menjaga aktivitas fisik sesuai kemampuan, jam tidur yang cukup, dan mengelola stres.

Jika merasa cemas, sampaikan kepada dokter agar kamu mendapatkan penjelasan mengenai prosedur dan pilihan yang tersedia.

7. Susun Rencana Pemulihan Sebelum Berangkat ke Korea Selatan

Jika ingin menjalani operasi plastik di Korea Selatan, persiapan tidak berhenti setelah mendapatkan persetujuan dokter. Kamu juga perlu memastikan tersedia waktu dan dukungan yang cukup untuk menjalani pemulihan.

Perjalanan internasional dapat menambah tantangan, terutama jika kamu memiliki penyakit penyerta atau menjalani prosedur yang memerlukan pengawasan lanjutan.

Sebelum berangkat, pertimbangkan beberapa hal berikut:

  • Tentukan durasi tinggal berdasarkan rekomendasi dokter. Jangan hanya menyesuaikan jadwal dengan tiket pulang atau masa liburan. Waktu pemulihan berbeda-beda menurut prosedur dan kondisi pasien.
  • Pastikan tersedia pendamping. Bantuan selama beberapa hari pertama dapat dibutuhkan jika kamu mengalami keterbatasan gerak, rasa nyeri, atau efek obat.
  • Siapkan dokumen medis. Bawa ringkasan diagnosis, daftar obat, hasil pemeriksaan, alergi, serta kontak dokter yang merawat di Indonesia.
  • Tanyakan jadwal kontrol setelah operasi. Pastikan kamu mengetahui kapan harus kembali ke klinik atau rumah sakit dan bagaimana mendapatkan bantuan jika muncul keluhan.
  • Diskusikan waktu aman untuk terbang. Perjalanan udara setelah operasi perlu disesuaikan dengan jenis tindakan, risiko pembekuan darah, kondisi kesehatan, dan rekomendasi dokter.

Baca juga: Perawatan Pasca Operasi Plastik: Kapan Boleh Naik Pesawat dari Korea?

Pada pasien dengan riwayat penyakit ginjal, misalnya, dokter perlu mempertimbangkan pengaturan cairan dan obat selama perjalanan. Sementara itu, pasien dengan riwayat trombosis mungkin butuh penilaian khusus sebelum melakukan penerbangan jarak jauh.

Treatment Wajah: Alternatif Operasi Plastik yang Bisa Dipilih

Jika memiliki riwayat penyakit dan dinilai berisiko menjalani operasi plastik, kamu bisa mempertimbangkan treatment wajah nonbedah sebagai alternatif. 

Sejumlah perawatan populer di Korea Selatan dapat bantu memperbaiki tekstur kulit, menyamarkan kerutan, mengurangi lemak di area tertentu, atau membuat wajah terlihat lebih kencang tanpa operasi besar.

Berikut beberapa pilihan yang bisa kamu pertimbangkan:

1. Ultherapy dan HIFU untuk Mengencangkan Kulit

Ultherapy dan high-intensity focused ultrasound (HIFU) menggunakan energi ultrasound terfokus untuk merangsang pembentukan kolagen dan bantu mengencangkan kulit. Perawatan ini dapat menjadi pilihan bagi kamu yang ingin menyamarkan kulit kendur di area pipi, rahang, atau leher tanpa menjalani operasi pengencangan wajah.

Hasilnya cenderung berupa pengencangan bertahap, bukan perubahan bentuk wajah yang drastis seperti operasi. Efek samping yang mungkin terjadi meliputi kemerahan, bengkak, nyeri, atau gangguan saraf sementara pada kasus tertentu.

2. Laser Wajah untuk Memperbaiki Tekstur dan Warna Kulit 

Laser wajah populer untuk membantu menyamarkan bekas jerawat, mengurangi noda pigmentasi, memperbaiki tekstur kulit, dan merangsang pembentukan kolagen. Jenis laser yang digunakan akan disesuaikan dengan masalah kulit dan tingkat kedalaman perawatan.

Berbeda dari operasi plastik, laser tidak mengubah struktur tulang atau bentuk hidung. Namun, perawatan ini dapat membantu kulit terlihat lebih halus dan merata. Risiko seperti iritasi, perubahan warna kulit, atau luka bakar tetap perlu diperhatikan, terutama jika kulit sedang meradang atau memiliki kondisi tertentu.

3. Filler untuk Menambah Volume Wajah 

Dermal filler, khususnya yang berbahan asam hialuronat, dapat digunakan untuk menambah volume pipi, mempertegas dagu, atau memperbaiki tampilan garis wajah. Perawatan ini sering dipilih oleh orang yang menginginkan perubahan kontur wajah tanpa operasi.

Namun, filler bukan pengganti operasi pembentukan tulang atau perubahan struktur wajah yang besar. 

Pilih dokter yang memahami anatomi wajah dan mampu menangani komplikasi. Riwayat penyakit, alergi, serta penggunaan obat pengencer darah juga perlu disampaikan sebelum tindakan.

Baca juga: Treatment Muka di Korea: Alasan Tetap Pakai Agen Meski Tidak Oplas

4. Radiofrequency (RF) untuk Mengencangkan Kulit

Perawatan radiofrequency (RF) menggunakan energi panas untuk merangsang kolagen dan memperbaiki kekencangan kulit. Treatment ini dapat dipertimbangkan untuk mengurangi tampilan kulit kendur ringan dan memperbaiki tekstur wajah.

Hasilnya biasanya bertahap dan tidak setara dengan operasi pengencangan wajah. Risiko yang mungkin terjadi meliputi kemerahan, rasa tidak nyaman, luka bakar, atau perubahan jaringan tertentu, bergantung pada perangkat dan teknik yang digunakan.

Jika memiliki alat implan tertentu, gangguan kulit aktif, atau kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, tanyakan kepada dokter apakah jenis RF yang dipilih sesuai untukmu.

5. Fat-Dissolving Injection untuk Mengurangi Lemak Lokal

Suntikan pelarut lemak dapat digunakan untuk mengurangi lemak lokal pada area tertentu, misalnya di bawah dagu. Perawatan ini bisa menjadi alternatif terbatas bagi orang yang ingin memperbaiki tampilan dagu berlipat tanpa menjalani sedot lemak.

Hasilnya tidak sama dengan operasi pembentukan wajah dan tidak semua produk suntik pelarut lemak memiliki keamanan atau persetujuan penggunaan yang sama. Oleh sebab itu, konsultasikan pilihan produk dan kelayakan tindakan dengan dokter yang kompeten.

Bagaimana Memilih Treatment yang Sesuai dengan Riwayat Penyakit?

Walaupun treatment nonbedah umumnya tidak membutuhkan sayatan besar, kamu tetap perlu menjalani konsultasi sebelum memilih perawatan. Suntikan, energi panas, laser, dan ultrasound memiliki cara kerja serta risiko yang berbeda.

Agar pilihan lebih sesuai, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Sesuaikan dengan tujuan estetika. Tentukan apakah kamu ingin mengencangkan kulit, menyamarkan kerutan, memperbaiki tekstur, atau menambah volume wajah.
  • Sampaikan riwayat kesehatan dan obat yang digunakan. Informasi ini membantu dokter menilai risiko perdarahan, infeksi, gangguan penyembuhan, atau efek samping lainnya.
  • Pastikan tindakan dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten. Tanyakan jenis perangkat atau produk yang digunakan serta risiko yang mungkin terjadi.

Punya riwayat penyakit bukan berarti kamu harus mengubur keinginan untuk menjalani operasi plastik atau treatment wajah di Korea.

Beutrip siap menjadi medical concierge yang menemani perjalanan treatment kecantikanmu di Korea, baik itu untuk menjalani operasi plastik, maupun untuk treatment wajah. Mulai dari menemukan klinik dan dokter yang sesuai, mengatur konsultasi awal, hingga mendampingi kebutuhan selama proses dan pasca perawatan. 

Yuk, konsultasi dengan Beutrip agar kamu bisa mengambil keputusan yang lebih terarah, nyaman, dan tetap mengutamakan keselamatan.

Punya Riwayat Penyakit, Apakah Aman Menjalani Operasi Plastik? Ini Penjelasannya!

Price Enquiry

Get ready for your transformation